Ucapan Jazakallahu khairan, jazakumullahu khairan


Berselang lama dari kejadian sebenarnya, tertarik untuk dijadikan artikel di blog

Saat pertama kali melihat kata ini.
Lokasi : sekre hmif (Himpunan Mahasiswa Fakultas Informatika)
Skenario :
Si mpit sedang membuat email untuk temannya. Tanpa sengaja terbaca bagian akhir emailnya. Ada sebuah kalimat yang menarik buat saya, “jazakillahu khairan”.

Iseng, akhirnya saya jadi bertanya, “jazakillahu khairan itu apa?”.
si mpit jawab, “jazakillahu khairan itu doa, biasanya diungkapkan sebagai ucapan terima kasih. Jazakillahu untuk perempuan, jazakallahu untuk laki-laki”
DIakhiri dengan bengong nggak ngerti.

Cerita selanjutnya, setelah berselang lama dari cerita pertama.
lokasi : gedung kuliah ITTelkom, lupa sedang kuliah apa.
Skenario :
Ada seorang teman sms,  bertanya perihal pelajaran, diakhir sms ada yang berbunyi begini “Jazakallahu khairan, akh”. Nah loe, apa artinya? ( ⌣́  _  ⌣̀ ). Perasaan pernah denger kalimat-nya. Bingung mau jawab apa, akhirnya saya selesaikan dengan tidak menjawab smsnya (ahahaha, kebiasaan buruk, sering lupa bales sms😀 ).

Cerita terakhir (sebelum pada bosan dengarnya😀 ).
Lokasi : Gedung kuliah juga
Skenario :
si Pratika tanya “eh Don, kalau ada orang bilang ‘jazakillahu khairan’ ngejawabnya apa ya?”.
dalam hati, “Nah lo, ketemu lagi dengan yang beginian, trus emang ada jawabannya ya?”,
“’waiyyak’ bukan jawabnya?”, si anak langsung nimpali
“ini anak klo emang udah tahu, ngapain tanya dah, bikin bingung aja” dalam pikirku
si mpit yang juga ikut kuliah yang sama mengiyakan, memberikan sedikit penjelasan kalau bisa ditambahkan “katsiron” diakhirnya sehingga menjadi “jazakillahu khairan katsiron”.

Alhasil makin bingung, iya sih memang pernah belajar bahasa arab, hanya saja yang tertinggal di otak cuma percakapan “kaifa haluk ya akhi?”.

Karena tiga pengalaman bodoh ini, akhirnya saya pun terpaksa penasaran. Dari pada bodohnya dipelihara akhirnya saya cari sana-sini tentang ucapan ini.

Dapatnya seperti ini :

Jadi “jazakillahu khairan” adalah sebuah doa yang dicontohkan oleh baginda rasul kita nabi muhammad SAW, saat mendapatkan kebaikan dari orang lain. yang arti harfiahnya adalah “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.

Untuk pengucapannya sendiri disesuaikan kepada siapa diucapkannya :

jazakallahu khairan (engkau, lelaki)
jazakillahu khairan (engkau, perempuan)
jazakumullahu khairan (kamu sekalian)
jazahumullahu khairan (mereka)

bolehkah kita mengucapkan Alhamdulillah sebelum jazakallahu khairan?

tentu saja tidak mengapa, insya Allah, karena pada dasarnya itu adalah lafadz dzikir untuk mengucapkan syukur kepada Allah, terutama ketika mendapatkan kebaikan dari seseorang, yang sebenarnya kebaikan itu sumbernya datang dari Allah.

Kemudian kita mengucapkan “jazakallahu khairan” kepada orang tersebut.🙂

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan saat kita mendapat ucapan tersebut? Karena “jazakallahu khairan” adalah sebuah doa, apa yang harus kita jawabkan?

Berikut ini adalah beberapa fatwa ulama yang berkaitan :

Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak” (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?

Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”

Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”


Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita?

Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.
Sumber: Fath Rabbil-Wadood Fil-Fataawaa war-Rasaa’il war-Rudood 1/68, no. 30

Menjawab dengan “Wafiika barakallah”.
Apabila ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum atau Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun)

Menjawab dengan “jazakallahu khair”.
Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”

(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:

sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?

Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:

Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?

Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.” (transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits: 222)

KESIMPULAN:

Ucapan” waiyyak” tetap bisa digunakan sebagai balasan dari “jazakallahu khairan”, tetapi para ulama tidak menemukan ini sebagai sebuah sunnah. Sunnahnya adalah membalas dengan “jazakallahu khair”. Kalau ada yang sunnah kenapa tidak kita ikuti, hitung-hitung berburu pahala😀.
Sedangkan lafadz dengan tambahan “katsiron” saya belum mendapatkan haditsnya. Mungkin ada teman-teman yang bisa membantu? atau mungkin ada yang salah dari artikel ini, CMIW

——————————————————————————
Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini mudah-mudahan kita bisa terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan dalam beramal atau beribadah.

Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar dalil-dalilnya

Sumber Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s